Draft - Part 1

"Selamat Pagi :)" SMS ini membangunkanku, namun aku tak bersemangat untuk membuka mata, tak ada hasrat untuk melangkah dari tempatku tidur. Bukan karena sakit demam yang kurasakan, namun karena merasa ada energi yang hilang, energi yang bisa membuatku bangkit dan tersenyum di pagi hari. Kulempar benda kotak berwarna hitam itu, bagai membagikan sebuah kartu dalam permainan poker.

Inilah hari pertamaku, hari pertama memulai kehidupan yang baru. Masih terasa tepian tempat tidurku basah, bukan karena air liur, keringat, atau air yang minum yang tumpah, tapi semalam aku telah menangis sampai shubuh. Tak terbayang semua ini akan terjadi, ketika dulu energi itu masih kurasakan walau tak berwujud. Dulu, ucapan selamat pagi begitu berarti bagiku, memberiku semangat baru untuk memulai hari, tapi kini berasa kelu di hati.

Kutatap angka-angka itu, 'Sudah pukul 9' sementara aku masih tetap seperti ini, tak bergairah walau untuk menyentuhkan kaki ke lantai. Kupandangi lagi Hand Phone yang telah menemaniku selama ini, kubuka semua pesan yang belum kuhapus, kubaca setiap kata meski aku tahu itu akan membuatku semakin terpuruk. Tanpa sadar jemariku menari, menjawab semua pesan yang ada, meski aku tau semua pesan itu telah terjawab, tapi aku tetap ingin menjawab.

Aku belum menjawab salam itu, salam yang penuh kehangatan namun tak bisa kurasakan kehangatan itu. Mungkin hatiku telah mati, atau mungkin karena tidak percaya akan terjadi seperti ini.

'Selamat Pagi juga :)' ya hanya ini yang kutulis demi menjawab salam itu. Kaku, dingin, bahkan tak bermakna sebagai salam.

----

Sebenarnya aku harus masuk kerja, namun fisik — karena tekanan batin lebih tepatnya — tak kuat bahkan hanya untuk melangkah. 'Sudahlah, bolos saja' ya, aku tak masuk kantor hari itu, walaupun aku masuk, tak akan ada gunanya, tak ada yang bisa kukerjakan disana, karena sudah lama perusahaan kami tak mendapatkan proyek.

----

'Nada itu' kudengar nada berteriak memecahkan keheningan kamar yang sempit, karena memang terasa menyempit. Lalu kusambar sumber suara itu, ahhh sebuah pesan masuk, apakah aku harus membacanya, atau mengabaikannya. Jujur, aku tak sanggup jika tak ada pesan dari dia, aku tak mau dia tahu bahwa aku terpuruk dalam kesedihan.

"Kamu jangan sedih terus dong". Emosiku terguncang, aku seakan kembali menangis. Oh tuhan, inilah kekuatan yang telah kau berikan, kini menjadi sebuah cobaan.
"Aku tak bisa bohongi diriku sendiri, aku masih menyayangimu, aku tak tau harus apa, semua ini terasa berat". Ya aku tak ingin membohongi perasaanku, aku tak ingin menahan dan menyembunyikan perasaanku.
"Aku tahu ini berat, tapi inilah jalan yang terbaik, aku tak mau terus menyakitimu, aku juga masih menyayangimu". Ahh.. Jika memang benar semua itu, mengapa kau lakukan ini. Terasa tak adil memang, tapi aku harus tetap menerima, bukankah ini juga demi kebahagiaan dia? ah, klise.

Aku terlalu lemah jika berurusan dengan yang satu ini, berurusan dengan perasaan ini, perasaan yang dulu tak pernah kupedulikan, bahkan ketika merasakannya aku selalu memendamnya jauh didalam hati. Ya, cinta.

[bersambung]
 
© 2009 Sendy Aditya Suryana | Powered by Blogger | Grey Alpha built on the Blogger Template Framework | Design: Sendy Aditya