Draft - Part 2 [Kicau Burung di Pagi Hari]

Pagi yang biasa, tak ada yang special di pagi hari ini, selain kulihat Paman menikmati roti dan kopinya di depan Televisi 14", dan Bang Ali — teman kerja, asal medan —. Kerinduan akan rumah semakin menjadi jadi sejak saat itu, aku butuh teman disini, tak sekedar Paman atau Bang Ali saja. Seperti pagi sebelumnya, mereka selalu bercanda, kadang menertawakan dirinya sendiri, bahkan akupun selalu ditertawakan mereka.

Kutinggalkan mereka yang sedang asyik ngobrol, kupandang Netbook — Noteboook kecil, berukuran 10" — di ruang tengah yang tak aku matikan semalam. Entah mengapa aku merindukan dunia itu, dunia yang tak nyata, dunia yang terasa lebih luas dari dunia yang kupijak ini.

Kuawali pagi ini dengan browsing, berkelana di dunia yang mereka sebut dunia maya, namun bagiku ini dunia nyata, karena pelaku dunia ini juga nyata, hanya saja kecerdasan buatan yang menjalankannya. Sejenak aku jenuh, aku tak tahu harus mencari apa lagi, aku tak tahu cara mengusir sepi ini. Facebook, sudah terasa membosankan, aku jenuh disana, yang kulihat hanya status tak penting yang semakin membuatku terpuruk.

-----

Aku butuh teman, sekedar untuk mengusir kejenuhan, menemani kesendirian, sementara untuk berteman disini sangatlah sulit. Tempatku tinggal mungkin bisa dikatakan sebagai tempat yang pemudanya jarang berinteraksi, jarang ngumpul dan ngobrol sore, mereka lebih senang kebut-kebutan dengan Kawasaki Ninja bising mereka, atau Suzuki Satria F150 dengan knalpot yang membuat telinga pecah.

-----

Teman dunia maya sangatlah banyak, ya kalau dilihat dari angka, tapi tak pernah ada yang berinteraksi dengan baik, mereka hanya membicarakan kepentingan mereka sendiri, egois, seperti tak berniat berteman. Sejenak aku mengingat akan account twitter yang telah lama tak terjamah. Entah ada badai apa yang membuatku ingin membukanya, padahal aku sendiri kebingungan dengan Social Networking satu ini. Seperti biasanya, sepi, tak ada teman aktif disana, hanya ucapan selamat pagi dariku yang aku kirim tadi.

Masih merasa sendiri, masih merasa kesepian, dan akhirnya salam itu dibalas oleh seseorang. Aku terpana, kuangkat kacamata -¼, ternyata dia, teman lamaku, teman seperjuangan 3 tahun di SMK,  teman sebangku, teman berbagi, teman yang menyimpan banyak rahasia yang aku miliki, bahkan bisa dibilang sebagian besar rahasia hidupku dia mengetahuinya. Konyol. Telah lama aku merindukannya, sahabat sekolah, lelaki yang tinggi badannya lebih pendek dariku, berkulit sedikit hitam.

-----

Aku merindukanmu sobat, Hari Raya Idul Fitri yang lalu hanya sedikit obat melepas kerinduan kepada sahabat, kini kita jauh, hanya bantuan kecerdasan manusia yang kita sebut teknologi yang bisa membantu kita melepas kerinduan, kepenatan dalam kepala. Aku merindukan canda tawa kita, mengingat kekonyolanmu menendang mangkuk mie ayam sehingga tumpah sebagian. Semua telah berlalu kawan.

-----

"Online twitter lo? tumben, katanya kau tak mengerti menggunakan twitter.". Jawaban salam pagi yang tak pantas, tapi aku memakluminya.
"Bosan aku, jenuh dengan si putih biru itu. Apa kabarnya disana?".
"Baik baik saja, bagaimana denganmu anak rantau?". Sungguh pertanyaan yang menyinggung perasaan, bagiku disebut anak rantau adalah anak yang terpaksa merantau karena kekurangan biaya, dan memang benar, aku kekurangan biaya untuk melanjutkan kuliah, sehingga aku memutuskan bekerja jauh menyebrang Selat Sunda dari rumahku.

Aku meninggalkan obrolan kecil ini karena perut semakin berontak, sampai pukul 10 pagi perutku masih belum terisi. Inilah hidup merantau, tak ada lagi senyuman ibu yang kurindukan sedang menyiapkan sarapan di dapur. Ibu, maafkan aku harus meninggalkanmu disana, aku memang kecewa waktu itu, mimpiku seakan hancur ketika aku merasa tak bisa melanjutkan sekolahku lebih tinggi.

----

Aku tak bisa kuliah, karena kakakku juga belum menyelesaikan kuliahnya, sementara Bapak, setahun lagi pensiun, aku semakin terpuruk saja, 'kuliah' hanya kata itu yang terngiang dikepalaku. Aku membenci nasibku sendiri, merasa tak diperhatikan, tapi bagaimanapun juga aku harus tetap tau diri, mengerti keadaan keluarga, hingga akhirnya Bibiku yang ada di Jambi menghubungiku menawari pekerjaan, dan tanpa pikir panjang aku menerimanya. Kerja, bukan impian awalku, namun tak apalah jika mencukupi bekerja satu tahun untuk melanjutkan aku kuliah.

----

[bersambung]
 
© 2009 Sendy Aditya Suryana | Powered by Blogger | Grey Alpha built on the Blogger Template Framework | Design: Sendy Aditya