doa

Bersihkanlah hatiku dari segala dendam dan kebencian.
Jernihkanlah hatiku seperti engkau menjernihkan air dalam telaga.
Tenangkanlah hatiku seperti engkau menjinakan api menjadi sumber kehangatan.
Bebaskanlah diriku dari segala prasangka.
Maafkanlah segala dosa yang pernah kami perbuat.
Selamatkanlah orang orang yang kusayangi dan kucintai.
Berikanlah dia kebahagiaan yang engkau janjikan kepada setiap manusia.
Jangan biarkan ia tersakiti oleh kedzoliman dunia.
Lindungilah dia dari segala duri yang bisa menusuk dan melukai dia.
Jauhkanlah dia dari segala ancaman dan marabahaya.
Berikanlah ketenangan, dan ketentraman hati untuknya.
Engkau yang maha mendengar segala bisikan hati.
Kuatkanlah hatiku dari cobaan ini, jangan biarkan aku menyerah.
Jadikanlah setiap tetesan air mata ini sebagai doaku untuknya.
Jadikanlah setiap keresahan dan kegelisahan hatiku sebagai tanda bahwa aku tak akan pernah membencinya.
Bukakanlah pintu hatiku dan pintu hatinya agar kami merasa tenang dan tentram.

Draft - Part 6 [isi hati]

Kerinduan yang aku tanam kini tumbuh dan berbunga, tumbuh menjadi rasa yang lebih jauh yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Aku tertarik akan kepribadian dirinya, tertarik akan cerita kehidupan, dan tertarik untuk menjalin hubungan yang lebih jauh. Aku telah jatuh cinta, hati lah yang mengungkapkannya, seakan istilah 'dari mata turun ke hati' tak berlaku bagiku. Tak ada kontak fisik, hanya kata-kata yang menjadi kalimatlah yang membuat hatiku merasakan hal ini.

Bimbang, tak tahu apa yang harus kulakukan, andai saja aku disana, akan kuungkapkan isi hatiku dengan puisi ala kadarnya. Namun jarak yang menjadi penghambat, aku tak tahu apakah jarak ini bisa di dobrak, sehingga perasaanku bisa sampai padanya.

Setiap malam, aku tak bisa tidur dengan nyenyak, aku resah, selalu menunggu kehadirannya, kehadiran namanya didepan mataku melalui LCD 10" dihadapanku. Bahkan aku tidur di depan netbook dengan keadaan menyala. Aku telah menyiksanya selama berhari-hari, tak kumatikan benda ini dan kubiarkan menyala dengan modem tertancap di sisi kirinya. Seandainya aku tertidur, tapi netbook akan terjaga dan merekam namanya di aplikasi twitter client ku. Begitulah pikirku aneh, bahkan terlalu nyeleneh.

Yang bisa kulakukan hanya memberinya perhatian lebih, hingga dia memberikan isyarat berisi kesempatan untuk memasuki hatinya. Mimpi dan anganku terlalu besar untuk ini, hatiku selalu berbisik bahwa aku akan bisa memasuki hatinya, memilikinya walau tak seutuhnya.

Aku harus melakukan sesuatu, ya sedikit nekat walau aku tahu akan dikira keganjenan, centil, atau apalah itu.
"Halo sayang :P". Tindakan gila, hanya untuk mengetahui responnya saja, dan berharap dia mencaci maki untuk sebuah kebodohan. Dan aku berusaha sapaan ini hanya sebuah guyonan saja.
"Halo juga sayangku :)". Ah diluar dugaan, dia meresponnya dengan baik, tapi apakah ini juga sebuah guyonan? atau memang terpancing dengan umpan yang kuberikan?
Sejak saat itu kami menjadi lebih akrab, seperti sepasang kekasih namun belum terikat janji. Bukan aku tak mau mengutarakan, tapi aku tak sanggup, terlalu bodoh diriku dalam urusan seperti ini, terlalu banyak pertimbangan yang tak masuk akal.

[bersambung]

Draft - Part 5 [nyanyian kerinduan]

Aku mulai terbiasa dengan Social Networking ini, aku menemukan cara berteman yang baru yang tak kaku dan monoton. Hampir setiap ada waktu luang aku menyempatkan untuk menyapa teman temanku disana. Jumlah teman belum terlalu banyak, hingga aku mendapatkan kenalan baru yang lebih banyak lagi.

Secara tak sengaja, aku melihat post (tweet) seorang gadis, aku terhenyak dengan bahasanya, kulihat luapan emosi tumpah disetiap huruf-huruf yang hanya dibatasi 140 huruf itu, tersirat bahwa dia menanggung beban kecewa terhadap lelaki. Aku memberanikan diri untuk menyapanya, meski aku tahu bahwa dia akan membalas sapaanku dengan dingin, bahkan berkata 'Jangan campuri urusan gue!'. Namun hatiku tergerak, dalam pikirku 'aku juga lelaki, aku tak ingin kaumku dicaci-maki seperti itu. masa bodo dia mau nganggap diriku apa, aku hanya ingin menyapanya dan ingin berteman, itu saja'

"Hai, kenapa sih marah-marah? ada masalah?". Heroik, berani mati untuk sebuah perkenalan.

Lama tak terjawab, akupun tak begitu menunggu balasan. Ya sudahlah, lebih baik berdiskusi dengan teman yang lain.

"Iya nih, biasalah, cowok". Tanpa kusadari dia membalasnya, dari sini aku dapat melihat bahwa dia sedang kecewa, mungkin cintanya dikhianati, atau mungkin dia merasa di sakiti oleh makhluk bernama lelaki.

Hanya dari sapaan tersebut, kami menjadi akrab, banyak perbedaan yang telah dibagi, banyak kisah yang menarik untuk saling bercerita dengannya. Kami semakin dekat, tak hanya twitter saja penghubung diantara sepasang kenalan baru ini, SMS, IM hanyalah sebuah penghubung dua manusia dengan jarak ratusan kilometer.

Ada yang aneh, ada sesuatu yang tak bisa dimengerti, ada kerinduan mengganggu setiap nafasku. Aku merindukannya, merindukan kehadirannya, merindukan dirinya meski hanya berkata 'hallo'. Aku tersiksa dengan keadaan ini, diluar jangkauan, diluar batas kemampuanku.

Akankah dia merindukanku? apakah dia merasakan hal yang sama denganku? Pertanyaan yang sama setiap hari. Aku menunggu, menunggu kehadirannya, atau sebatas namanya muncul di  aplikasi twitter client ku. Ahh... berat rasanya merindukan hal yang mustahil. Hingga suatu waktu aku menahan kerinduan ini, aku tak menyapanya meski namanya bertebaran di layar netbookku. Aku hanya ingin mengetahui, apakah dia juga merasakan hal yang sama, apakah dia merindukan orang yang tak pernah dia temui sebelumnya.

EUREKA.!!! Tak ada pertanda dia merindukanku, hanya kalimat penuh emosi bertebaran di ujung namanya. Ah sudahlah, aku akan memendam sendiri kerinduan ini, sakit memang menyimpan rasa rindu tak terbalaskan. Namun aku menjadi lebih tersiksa, setidaknya aku harus menyapanya untuk sekedar menghilangkan sesak di dada.

"Hai, marah marah terus, kenapa?". Sekali lagi aku melakukan adegan cari mati disini. Ah biarlah, kalaupun dia tersinggung pipiku tak akan jadi sasaran.
"Aku nungguin kamu tau! Kamu malah asyik sendiri :(". benarkah? benarkah dia menungguku? benarkah dia juga merindukanku? tidak, aku tak percaya meski dalam hatiku merasa bahagia. Tapi emoticon dibelakangnya membuatku bisa merasakan apa yang dia rasakan.
"Serius? Aku gak berani sapa kamu jika sedang marah marah". Dunia akan menertawakan apa yang telah kubicarakan, aku yakin itu.
"Kamu gak ngerti ya? kalau aku marah marah itu harus ditenangin.". Jlebbb... hatiku bagai tertusuk tombak karatan, perih.
"Iya maaf, jadi dari tadi kamu marah-marah biar aku kesinggung ya?". Hatiku berbisik 'yaiyalah, dasar bodoh!'
"Iya, tapi kamu gak respon, kamu terlalu sibuk dan cuek sendiri :(". Betapa butanya hatiku, betapa dinginnya diriku hingga tak bisa merasakannya. Oh tuhan, mengapa begini.
"Maafin aku ya, nanti aku sapa kamu setiap hari :)". Aku mulai tersenyum, aku merasa ada seseorang yang merindukanku, betapa bahagianya hati ini.
"Bener ya :D. Maaf jika kamu tersinggung".

Inilah percakapan yang menjadi kami semakin dekat, saling merindukan meski tak pernah tertuliskan, hanya emosi dan sedikit perasaan yang bisa menyadarinya. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya jika aku akan merasakan hal ini.

[bersambung]

Draft - Part 4 [sahabat]

Sahabat, merekalah yang ada dibalik semua ini. Aku tak akan pernah bisa bangkit sendiri tanpa mereka, mereka bagaikan nyawa kedua, mereka adalah aspirin ketika aku terpuruk sakit, mereka tak bisa diungkapkan dengan kata kata. Mereka yang membantuku untuk menyembuhkan luka hatiku.

Berbagai cara mereka lakukan tanpa kuminta, dua sahabat terbaikku memberikan petuah dari dua arah, melalui IM — Instant Messenger — dan twitter. Dan sahabatku yang lain menyemangati via twitter, kadang mengirim SMS. Aku tak sendiri disini, aku tak berdiri sendiri, masih ada yang peduli, masih ada yang menyayangiku dengan cara mereka.

Sahabatku, teman perjuanganku waktu sekolah, dialah orang yang selalu memberikan petuah sampai sekarang, dengan gayanya yang seperti psikolog, selalu bilang 'ini adalah serangan psikologi' ketika ku berkeluh kesah tentang kisah ini, dari sini aku yakin dia telah minum kopi dari abu buku 'Personality Plus' yang selalu ia banggakan. Tapi aku tetap menyukai gayanya ketika memberikan pengarahan, selalu memaksa otakku untuk ikut memikirkan maksud dari kalimatnya hingga aku bisa mengerti apa yang dia  maksud.

Ada yang unik, ada yang membuatku merasa berarti, dia mengingatkan kembali akan apa yang telah kukatakan padanya saat dia terpuruk dan aku berusaha untuk menguatkannya, membuatnya bangkit kembali. Sekarang aku malu padanya, sekarang dia yang menyemangatiku, dia yang memberikan kekuatan akan harapan, seperti dulu yang kulakukan padanya. Tak tanggung, dia mengeluarkan semua kalimat-kalimat yang pernah kuberikan padanya. Aku terharu akan dirinya, dia mengaku hapal semua kalimat yang pernah kuberikan, aku menangis gembira, hidupku masih berarti bagi orang lain.

Dan mereka, mereka berbagi pengalaman dengan kisah mereka yang tak jauh beda denganku. Bahkan aku seolah menjadi peran dari kisah mereka dibuatnya. Tak ada yang lebih menyedihkan dan menyakitkan jika kita mengambil hikmah dari setiap cobaan.

Dari sini aku sadar, tukang cukur tak pernah bisa mencukur rambutnya sendiri kecuali dia tukang cukur gila yang ingin melukai kepalanya, atau sekedar merusak gaya rambutnya. Meskipun aku dulu bisa membantu memulihkan luka orang lain, tetapi aku membutuhkan orang lain pula untuk membantu memulihkan lukaku. Mutualis.

Draft - Part 3

Agustus, banyak orang berbicara tentang cinta pada bulan ini. Entah ada badai apa sehingga yang kulihat hanyalah tulisan-tulisan patah hati, jatuh cinta, berbunga-bunga atau hancur berantakan. Lalu kenapa aku harus memikirkan hal itu? Karena semua bagai mengejekku, mengolok-olok, seolah mereka tahu apa yang kurasakan saat ini. Aku membicarakan patah hati, mereka pun begitu. Mungkinkah diantara kita memang senasib? Konyol.

Saat ini aku mencoba bangkit kembali dari keterpurukan, setelah apa yang kurasakan kemarin. Rasa sakit hati, perasaan yang hancur, dan pikiran yang tak menentu semua telah menerpaku secara bersamaan. Bagian dari cinta, itu yang mereka katakan.

Sekarang hatiku telah mati, hatiku telah buta, buta karenamu. Hatiku mati dan buta sehingga ku tak bisa membencimu, tak bisa melupakan kenangan bersamamu. Bukankah dulu aku pernah bilang 'walaupun amnesia, tapi kenangan akan selalu ada' karena kenangan bukan untuk dilupakan, tapi untuk menjadi jalan cerita kehidupan, kita bisa membukanya kembali untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Aku tak akan pernah membencimu, seperti janjiku dulu padamu.

Butuh sedetik untuk melihat seseorang.
Butuh semenit untuk memperhatikan seseorang.
Butuh sejam untuk mengenal seseorang.
Butuh sehari untuk mengagumi seseorang.
Butuh seminggu untuk lebih dekat dengan seseorang.
Butuh sebulan untuk bisa mencintai seseorang.
Tapi . . .
Butuh seumur hidup untuk melupakan seseorang.

Kau pernah memintaku untuk mengikhlaskanmu, aku ikhlas, aku ikhlas melepasmu seperti aku ikhlas menyayangimu. Biarkanlah aku menanggung sakit ini, aku rela jika ini yang terbaik untukmu, mungkin juga bisa jadi yang terbaik untuk kita.

Draft - Part 2 [Kicau Burung di Pagi Hari]

Pagi yang biasa, tak ada yang special di pagi hari ini, selain kulihat Paman menikmati roti dan kopinya di depan Televisi 14", dan Bang Ali — teman kerja, asal medan —. Kerinduan akan rumah semakin menjadi jadi sejak saat itu, aku butuh teman disini, tak sekedar Paman atau Bang Ali saja. Seperti pagi sebelumnya, mereka selalu bercanda, kadang menertawakan dirinya sendiri, bahkan akupun selalu ditertawakan mereka.

Kutinggalkan mereka yang sedang asyik ngobrol, kupandang Netbook — Noteboook kecil, berukuran 10" — di ruang tengah yang tak aku matikan semalam. Entah mengapa aku merindukan dunia itu, dunia yang tak nyata, dunia yang terasa lebih luas dari dunia yang kupijak ini.

Kuawali pagi ini dengan browsing, berkelana di dunia yang mereka sebut dunia maya, namun bagiku ini dunia nyata, karena pelaku dunia ini juga nyata, hanya saja kecerdasan buatan yang menjalankannya. Sejenak aku jenuh, aku tak tahu harus mencari apa lagi, aku tak tahu cara mengusir sepi ini. Facebook, sudah terasa membosankan, aku jenuh disana, yang kulihat hanya status tak penting yang semakin membuatku terpuruk.

-----

Aku butuh teman, sekedar untuk mengusir kejenuhan, menemani kesendirian, sementara untuk berteman disini sangatlah sulit. Tempatku tinggal mungkin bisa dikatakan sebagai tempat yang pemudanya jarang berinteraksi, jarang ngumpul dan ngobrol sore, mereka lebih senang kebut-kebutan dengan Kawasaki Ninja bising mereka, atau Suzuki Satria F150 dengan knalpot yang membuat telinga pecah.

-----

Teman dunia maya sangatlah banyak, ya kalau dilihat dari angka, tapi tak pernah ada yang berinteraksi dengan baik, mereka hanya membicarakan kepentingan mereka sendiri, egois, seperti tak berniat berteman. Sejenak aku mengingat akan account twitter yang telah lama tak terjamah. Entah ada badai apa yang membuatku ingin membukanya, padahal aku sendiri kebingungan dengan Social Networking satu ini. Seperti biasanya, sepi, tak ada teman aktif disana, hanya ucapan selamat pagi dariku yang aku kirim tadi.

Masih merasa sendiri, masih merasa kesepian, dan akhirnya salam itu dibalas oleh seseorang. Aku terpana, kuangkat kacamata -¼, ternyata dia, teman lamaku, teman seperjuangan 3 tahun di SMK,  teman sebangku, teman berbagi, teman yang menyimpan banyak rahasia yang aku miliki, bahkan bisa dibilang sebagian besar rahasia hidupku dia mengetahuinya. Konyol. Telah lama aku merindukannya, sahabat sekolah, lelaki yang tinggi badannya lebih pendek dariku, berkulit sedikit hitam.

-----

Aku merindukanmu sobat, Hari Raya Idul Fitri yang lalu hanya sedikit obat melepas kerinduan kepada sahabat, kini kita jauh, hanya bantuan kecerdasan manusia yang kita sebut teknologi yang bisa membantu kita melepas kerinduan, kepenatan dalam kepala. Aku merindukan canda tawa kita, mengingat kekonyolanmu menendang mangkuk mie ayam sehingga tumpah sebagian. Semua telah berlalu kawan.

-----

"Online twitter lo? tumben, katanya kau tak mengerti menggunakan twitter.". Jawaban salam pagi yang tak pantas, tapi aku memakluminya.
"Bosan aku, jenuh dengan si putih biru itu. Apa kabarnya disana?".
"Baik baik saja, bagaimana denganmu anak rantau?". Sungguh pertanyaan yang menyinggung perasaan, bagiku disebut anak rantau adalah anak yang terpaksa merantau karena kekurangan biaya, dan memang benar, aku kekurangan biaya untuk melanjutkan kuliah, sehingga aku memutuskan bekerja jauh menyebrang Selat Sunda dari rumahku.

Aku meninggalkan obrolan kecil ini karena perut semakin berontak, sampai pukul 10 pagi perutku masih belum terisi. Inilah hidup merantau, tak ada lagi senyuman ibu yang kurindukan sedang menyiapkan sarapan di dapur. Ibu, maafkan aku harus meninggalkanmu disana, aku memang kecewa waktu itu, mimpiku seakan hancur ketika aku merasa tak bisa melanjutkan sekolahku lebih tinggi.

----

Aku tak bisa kuliah, karena kakakku juga belum menyelesaikan kuliahnya, sementara Bapak, setahun lagi pensiun, aku semakin terpuruk saja, 'kuliah' hanya kata itu yang terngiang dikepalaku. Aku membenci nasibku sendiri, merasa tak diperhatikan, tapi bagaimanapun juga aku harus tetap tau diri, mengerti keadaan keluarga, hingga akhirnya Bibiku yang ada di Jambi menghubungiku menawari pekerjaan, dan tanpa pikir panjang aku menerimanya. Kerja, bukan impian awalku, namun tak apalah jika mencukupi bekerja satu tahun untuk melanjutkan aku kuliah.

----

[bersambung]
 
© 2009 Sendy Aditya Suryana | Powered by Blogger | Grey Alpha built on the Blogger Template Framework | Design: Sendy Aditya