Sahabat, merekalah yang ada dibalik semua ini. Aku tak akan pernah bisa bangkit sendiri tanpa mereka, mereka bagaikan nyawa kedua, mereka adalah aspirin ketika aku terpuruk sakit, mereka tak bisa diungkapkan dengan kata kata. Mereka yang membantuku untuk menyembuhkan luka hatiku.
Berbagai cara mereka lakukan tanpa kuminta, dua sahabat terbaikku memberikan petuah dari dua arah, melalui IM — Instant Messenger — dan twitter. Dan sahabatku yang lain menyemangati via twitter, kadang mengirim SMS. Aku tak sendiri disini, aku tak berdiri sendiri, masih ada yang peduli, masih ada yang menyayangiku dengan cara mereka.
Sahabatku, teman perjuanganku waktu sekolah, dialah orang yang selalu memberikan petuah sampai sekarang, dengan gayanya yang seperti psikolog, selalu bilang 'ini adalah serangan psikologi' ketika ku berkeluh kesah tentang kisah ini, dari sini aku yakin dia telah minum kopi dari abu buku 'Personality Plus' yang selalu ia banggakan. Tapi aku tetap menyukai gayanya ketika memberikan pengarahan, selalu memaksa otakku untuk ikut memikirkan maksud dari kalimatnya hingga aku bisa mengerti apa yang dia maksud.
Ada yang unik, ada yang membuatku merasa berarti, dia mengingatkan kembali akan apa yang telah kukatakan padanya saat dia terpuruk dan aku berusaha untuk menguatkannya, membuatnya bangkit kembali. Sekarang aku malu padanya, sekarang dia yang menyemangatiku, dia yang memberikan kekuatan akan harapan, seperti dulu yang kulakukan padanya. Tak tanggung, dia mengeluarkan semua kalimat-kalimat yang pernah kuberikan padanya. Aku terharu akan dirinya, dia mengaku hapal semua kalimat yang pernah kuberikan, aku menangis gembira, hidupku masih berarti bagi orang lain.
Dan mereka, mereka berbagi pengalaman dengan kisah mereka yang tak jauh beda denganku. Bahkan aku seolah menjadi peran dari kisah mereka dibuatnya. Tak ada yang lebih menyedihkan dan menyakitkan jika kita mengambil hikmah dari setiap cobaan.
Dari sini aku sadar, tukang cukur tak pernah bisa mencukur rambutnya sendiri kecuali dia tukang cukur gila yang ingin melukai kepalanya, atau sekedar merusak gaya rambutnya. Meskipun aku dulu bisa membantu memulihkan luka orang lain, tetapi aku membutuhkan orang lain pula untuk membantu memulihkan lukaku. Mutualis.







