Saat ini aku mencoba bangkit kembali dari keterpurukan, setelah apa yang kurasakan kemarin. Rasa sakit hati, perasaan yang hancur, dan pikiran yang tak menentu semua telah menerpaku secara bersamaan. Bagian dari cinta, itu yang mereka katakan.
Sekarang hatiku telah mati, hatiku telah buta, buta karenamu. Hatiku mati dan buta sehingga ku tak bisa membencimu, tak bisa melupakan kenangan bersamamu. Bukankah dulu aku pernah bilang 'walaupun amnesia, tapi kenangan akan selalu ada' karena kenangan bukan untuk dilupakan, tapi untuk menjadi jalan cerita kehidupan, kita bisa membukanya kembali untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Aku tak akan pernah membencimu, seperti janjiku dulu padamu.
Butuh sedetik untuk melihat seseorang.
Butuh semenit untuk memperhatikan seseorang.
Butuh sejam untuk mengenal seseorang.
Butuh sehari untuk mengagumi seseorang.
Butuh seminggu untuk lebih dekat dengan seseorang.
Butuh sebulan untuk bisa mencintai seseorang.
Tapi . . .
Butuh seumur hidup untuk melupakan seseorang.
Kau pernah memintaku untuk mengikhlaskanmu, aku ikhlas, aku ikhlas melepasmu seperti aku ikhlas menyayangimu. Biarkanlah aku menanggung sakit ini, aku rela jika ini yang terbaik untukmu, mungkin juga bisa jadi yang terbaik untuk kita.







