Draft - Part 5 [nyanyian kerinduan]

Aku mulai terbiasa dengan Social Networking ini, aku menemukan cara berteman yang baru yang tak kaku dan monoton. Hampir setiap ada waktu luang aku menyempatkan untuk menyapa teman temanku disana. Jumlah teman belum terlalu banyak, hingga aku mendapatkan kenalan baru yang lebih banyak lagi.

Secara tak sengaja, aku melihat post (tweet) seorang gadis, aku terhenyak dengan bahasanya, kulihat luapan emosi tumpah disetiap huruf-huruf yang hanya dibatasi 140 huruf itu, tersirat bahwa dia menanggung beban kecewa terhadap lelaki. Aku memberanikan diri untuk menyapanya, meski aku tahu bahwa dia akan membalas sapaanku dengan dingin, bahkan berkata 'Jangan campuri urusan gue!'. Namun hatiku tergerak, dalam pikirku 'aku juga lelaki, aku tak ingin kaumku dicaci-maki seperti itu. masa bodo dia mau nganggap diriku apa, aku hanya ingin menyapanya dan ingin berteman, itu saja'

"Hai, kenapa sih marah-marah? ada masalah?". Heroik, berani mati untuk sebuah perkenalan.

Lama tak terjawab, akupun tak begitu menunggu balasan. Ya sudahlah, lebih baik berdiskusi dengan teman yang lain.

"Iya nih, biasalah, cowok". Tanpa kusadari dia membalasnya, dari sini aku dapat melihat bahwa dia sedang kecewa, mungkin cintanya dikhianati, atau mungkin dia merasa di sakiti oleh makhluk bernama lelaki.

Hanya dari sapaan tersebut, kami menjadi akrab, banyak perbedaan yang telah dibagi, banyak kisah yang menarik untuk saling bercerita dengannya. Kami semakin dekat, tak hanya twitter saja penghubung diantara sepasang kenalan baru ini, SMS, IM hanyalah sebuah penghubung dua manusia dengan jarak ratusan kilometer.

Ada yang aneh, ada sesuatu yang tak bisa dimengerti, ada kerinduan mengganggu setiap nafasku. Aku merindukannya, merindukan kehadirannya, merindukan dirinya meski hanya berkata 'hallo'. Aku tersiksa dengan keadaan ini, diluar jangkauan, diluar batas kemampuanku.

Akankah dia merindukanku? apakah dia merasakan hal yang sama denganku? Pertanyaan yang sama setiap hari. Aku menunggu, menunggu kehadirannya, atau sebatas namanya muncul di  aplikasi twitter client ku. Ahh... berat rasanya merindukan hal yang mustahil. Hingga suatu waktu aku menahan kerinduan ini, aku tak menyapanya meski namanya bertebaran di layar netbookku. Aku hanya ingin mengetahui, apakah dia juga merasakan hal yang sama, apakah dia merindukan orang yang tak pernah dia temui sebelumnya.

EUREKA.!!! Tak ada pertanda dia merindukanku, hanya kalimat penuh emosi bertebaran di ujung namanya. Ah sudahlah, aku akan memendam sendiri kerinduan ini, sakit memang menyimpan rasa rindu tak terbalaskan. Namun aku menjadi lebih tersiksa, setidaknya aku harus menyapanya untuk sekedar menghilangkan sesak di dada.

"Hai, marah marah terus, kenapa?". Sekali lagi aku melakukan adegan cari mati disini. Ah biarlah, kalaupun dia tersinggung pipiku tak akan jadi sasaran.
"Aku nungguin kamu tau! Kamu malah asyik sendiri :(". benarkah? benarkah dia menungguku? benarkah dia juga merindukanku? tidak, aku tak percaya meski dalam hatiku merasa bahagia. Tapi emoticon dibelakangnya membuatku bisa merasakan apa yang dia rasakan.
"Serius? Aku gak berani sapa kamu jika sedang marah marah". Dunia akan menertawakan apa yang telah kubicarakan, aku yakin itu.
"Kamu gak ngerti ya? kalau aku marah marah itu harus ditenangin.". Jlebbb... hatiku bagai tertusuk tombak karatan, perih.
"Iya maaf, jadi dari tadi kamu marah-marah biar aku kesinggung ya?". Hatiku berbisik 'yaiyalah, dasar bodoh!'
"Iya, tapi kamu gak respon, kamu terlalu sibuk dan cuek sendiri :(". Betapa butanya hatiku, betapa dinginnya diriku hingga tak bisa merasakannya. Oh tuhan, mengapa begini.
"Maafin aku ya, nanti aku sapa kamu setiap hari :)". Aku mulai tersenyum, aku merasa ada seseorang yang merindukanku, betapa bahagianya hati ini.
"Bener ya :D. Maaf jika kamu tersinggung".

Inilah percakapan yang menjadi kami semakin dekat, saling merindukan meski tak pernah tertuliskan, hanya emosi dan sedikit perasaan yang bisa menyadarinya. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya jika aku akan merasakan hal ini.

[bersambung]
 
© 2009 Sendy Aditya Suryana | Powered by Blogger | Grey Alpha built on the Blogger Template Framework | Design: Sendy Aditya