Kerinduan yang aku tanam kini tumbuh dan berbunga, tumbuh menjadi rasa yang lebih jauh yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Aku tertarik akan kepribadian dirinya, tertarik akan cerita kehidupan, dan tertarik untuk menjalin hubungan yang lebih jauh. Aku telah jatuh cinta, hati lah yang mengungkapkannya, seakan istilah 'dari mata turun ke hati' tak berlaku bagiku. Tak ada kontak fisik, hanya kata-kata yang menjadi kalimatlah yang membuat hatiku merasakan hal ini.
Bimbang, tak tahu apa yang harus kulakukan, andai saja aku disana, akan kuungkapkan isi hatiku dengan puisi ala kadarnya. Namun jarak yang menjadi penghambat, aku tak tahu apakah jarak ini bisa di dobrak, sehingga perasaanku bisa sampai padanya.
Setiap malam, aku tak bisa tidur dengan nyenyak, aku resah, selalu menunggu kehadirannya, kehadiran namanya didepan mataku melalui LCD 10" dihadapanku. Bahkan aku tidur di depan netbook dengan keadaan menyala. Aku telah menyiksanya selama berhari-hari, tak kumatikan benda ini dan kubiarkan menyala dengan modem tertancap di sisi kirinya. Seandainya aku tertidur, tapi netbook akan terjaga dan merekam namanya di aplikasi twitter client ku. Begitulah pikirku aneh, bahkan terlalu nyeleneh.
Yang bisa kulakukan hanya memberinya perhatian lebih, hingga dia memberikan isyarat berisi kesempatan untuk memasuki hatinya. Mimpi dan anganku terlalu besar untuk ini, hatiku selalu berbisik bahwa aku akan bisa memasuki hatinya, memilikinya walau tak seutuhnya.
Aku harus melakukan sesuatu, ya sedikit nekat walau aku tahu akan dikira keganjenan, centil, atau apalah itu.
"Halo sayang :P". Tindakan gila, hanya untuk mengetahui responnya saja, dan berharap dia mencaci maki untuk sebuah kebodohan. Dan aku berusaha sapaan ini hanya sebuah guyonan saja.
"Halo juga sayangku :)". Ah diluar dugaan, dia meresponnya dengan baik, tapi apakah ini juga sebuah guyonan? atau memang terpancing dengan umpan yang kuberikan?
Sejak saat itu kami menjadi lebih akrab, seperti sepasang kekasih namun belum terikat janji. Bukan aku tak mau mengutarakan, tapi aku tak sanggup, terlalu bodoh diriku dalam urusan seperti ini, terlalu banyak pertimbangan yang tak masuk akal.
[bersambung]







