Stop It

Aku putuskan untuk berhenti menuliskan tentang cerita masa lalu itu, mungkin jika ditanya mengapa alasannya, aku akan menjawab 'jika aku tetap menuliskan semua ini, aku tidak akan pernah bisa berhenti mengharapkan kisah hidup ini berubah, aku akan menjadi seseorang yang tidak ikhlas akan takdir yang telah menimpaku, aku akan terus berangan dia bisa kembali'
Berubah, aku harus berubah menjadi lebih baik, bangkit dari keterpurukan, dan mungkin menjalani kisah yang baru dengan pemeran baru juga. Saatnya membuka hati dan memberikan kesempatan kepada hati yang lain.

doa

Bersihkanlah hatiku dari segala dendam dan kebencian.
Jernihkanlah hatiku seperti engkau menjernihkan air dalam telaga.
Tenangkanlah hatiku seperti engkau menjinakan api menjadi sumber kehangatan.
Bebaskanlah diriku dari segala prasangka.
Maafkanlah segala dosa yang pernah kami perbuat.
Selamatkanlah orang orang yang kusayangi dan kucintai.
Berikanlah dia kebahagiaan yang engkau janjikan kepada setiap manusia.
Jangan biarkan ia tersakiti oleh kedzoliman dunia.
Lindungilah dia dari segala duri yang bisa menusuk dan melukai dia.
Jauhkanlah dia dari segala ancaman dan marabahaya.
Berikanlah ketenangan, dan ketentraman hati untuknya.
Engkau yang maha mendengar segala bisikan hati.
Kuatkanlah hatiku dari cobaan ini, jangan biarkan aku menyerah.
Jadikanlah setiap tetesan air mata ini sebagai doaku untuknya.
Jadikanlah setiap keresahan dan kegelisahan hatiku sebagai tanda bahwa aku tak akan pernah membencinya.
Bukakanlah pintu hatiku dan pintu hatinya agar kami merasa tenang dan tentram.

Draft - Part 6 [isi hati]

Kerinduan yang aku tanam kini tumbuh dan berbunga, tumbuh menjadi rasa yang lebih jauh yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Aku tertarik akan kepribadian dirinya, tertarik akan cerita kehidupan, dan tertarik untuk menjalin hubungan yang lebih jauh. Aku telah jatuh cinta, hati lah yang mengungkapkannya, seakan istilah 'dari mata turun ke hati' tak berlaku bagiku. Tak ada kontak fisik, hanya kata-kata yang menjadi kalimatlah yang membuat hatiku merasakan hal ini.

Bimbang, tak tahu apa yang harus kulakukan, andai saja aku disana, akan kuungkapkan isi hatiku dengan puisi ala kadarnya. Namun jarak yang menjadi penghambat, aku tak tahu apakah jarak ini bisa di dobrak, sehingga perasaanku bisa sampai padanya.

Setiap malam, aku tak bisa tidur dengan nyenyak, aku resah, selalu menunggu kehadirannya, kehadiran namanya didepan mataku melalui LCD 10" dihadapanku. Bahkan aku tidur di depan netbook dengan keadaan menyala. Aku telah menyiksanya selama berhari-hari, tak kumatikan benda ini dan kubiarkan menyala dengan modem tertancap di sisi kirinya. Seandainya aku tertidur, tapi netbook akan terjaga dan merekam namanya di aplikasi twitter client ku. Begitulah pikirku aneh, bahkan terlalu nyeleneh.

Yang bisa kulakukan hanya memberinya perhatian lebih, hingga dia memberikan isyarat berisi kesempatan untuk memasuki hatinya. Mimpi dan anganku terlalu besar untuk ini, hatiku selalu berbisik bahwa aku akan bisa memasuki hatinya, memilikinya walau tak seutuhnya.

Aku harus melakukan sesuatu, ya sedikit nekat walau aku tahu akan dikira keganjenan, centil, atau apalah itu.
"Halo sayang :P". Tindakan gila, hanya untuk mengetahui responnya saja, dan berharap dia mencaci maki untuk sebuah kebodohan. Dan aku berusaha sapaan ini hanya sebuah guyonan saja.
"Halo juga sayangku :)". Ah diluar dugaan, dia meresponnya dengan baik, tapi apakah ini juga sebuah guyonan? atau memang terpancing dengan umpan yang kuberikan?
Sejak saat itu kami menjadi lebih akrab, seperti sepasang kekasih namun belum terikat janji. Bukan aku tak mau mengutarakan, tapi aku tak sanggup, terlalu bodoh diriku dalam urusan seperti ini, terlalu banyak pertimbangan yang tak masuk akal.

[bersambung]

Draft - Part 5 [nyanyian kerinduan]

Aku mulai terbiasa dengan Social Networking ini, aku menemukan cara berteman yang baru yang tak kaku dan monoton. Hampir setiap ada waktu luang aku menyempatkan untuk menyapa teman temanku disana. Jumlah teman belum terlalu banyak, hingga aku mendapatkan kenalan baru yang lebih banyak lagi.

Secara tak sengaja, aku melihat post (tweet) seorang gadis, aku terhenyak dengan bahasanya, kulihat luapan emosi tumpah disetiap huruf-huruf yang hanya dibatasi 140 huruf itu, tersirat bahwa dia menanggung beban kecewa terhadap lelaki. Aku memberanikan diri untuk menyapanya, meski aku tahu bahwa dia akan membalas sapaanku dengan dingin, bahkan berkata 'Jangan campuri urusan gue!'. Namun hatiku tergerak, dalam pikirku 'aku juga lelaki, aku tak ingin kaumku dicaci-maki seperti itu. masa bodo dia mau nganggap diriku apa, aku hanya ingin menyapanya dan ingin berteman, itu saja'

"Hai, kenapa sih marah-marah? ada masalah?". Heroik, berani mati untuk sebuah perkenalan.

Lama tak terjawab, akupun tak begitu menunggu balasan. Ya sudahlah, lebih baik berdiskusi dengan teman yang lain.

"Iya nih, biasalah, cowok". Tanpa kusadari dia membalasnya, dari sini aku dapat melihat bahwa dia sedang kecewa, mungkin cintanya dikhianati, atau mungkin dia merasa di sakiti oleh makhluk bernama lelaki.

Hanya dari sapaan tersebut, kami menjadi akrab, banyak perbedaan yang telah dibagi, banyak kisah yang menarik untuk saling bercerita dengannya. Kami semakin dekat, tak hanya twitter saja penghubung diantara sepasang kenalan baru ini, SMS, IM hanyalah sebuah penghubung dua manusia dengan jarak ratusan kilometer.

Ada yang aneh, ada sesuatu yang tak bisa dimengerti, ada kerinduan mengganggu setiap nafasku. Aku merindukannya, merindukan kehadirannya, merindukan dirinya meski hanya berkata 'hallo'. Aku tersiksa dengan keadaan ini, diluar jangkauan, diluar batas kemampuanku.

Akankah dia merindukanku? apakah dia merasakan hal yang sama denganku? Pertanyaan yang sama setiap hari. Aku menunggu, menunggu kehadirannya, atau sebatas namanya muncul di  aplikasi twitter client ku. Ahh... berat rasanya merindukan hal yang mustahil. Hingga suatu waktu aku menahan kerinduan ini, aku tak menyapanya meski namanya bertebaran di layar netbookku. Aku hanya ingin mengetahui, apakah dia juga merasakan hal yang sama, apakah dia merindukan orang yang tak pernah dia temui sebelumnya.

EUREKA.!!! Tak ada pertanda dia merindukanku, hanya kalimat penuh emosi bertebaran di ujung namanya. Ah sudahlah, aku akan memendam sendiri kerinduan ini, sakit memang menyimpan rasa rindu tak terbalaskan. Namun aku menjadi lebih tersiksa, setidaknya aku harus menyapanya untuk sekedar menghilangkan sesak di dada.

"Hai, marah marah terus, kenapa?". Sekali lagi aku melakukan adegan cari mati disini. Ah biarlah, kalaupun dia tersinggung pipiku tak akan jadi sasaran.
"Aku nungguin kamu tau! Kamu malah asyik sendiri :(". benarkah? benarkah dia menungguku? benarkah dia juga merindukanku? tidak, aku tak percaya meski dalam hatiku merasa bahagia. Tapi emoticon dibelakangnya membuatku bisa merasakan apa yang dia rasakan.
"Serius? Aku gak berani sapa kamu jika sedang marah marah". Dunia akan menertawakan apa yang telah kubicarakan, aku yakin itu.
"Kamu gak ngerti ya? kalau aku marah marah itu harus ditenangin.". Jlebbb... hatiku bagai tertusuk tombak karatan, perih.
"Iya maaf, jadi dari tadi kamu marah-marah biar aku kesinggung ya?". Hatiku berbisik 'yaiyalah, dasar bodoh!'
"Iya, tapi kamu gak respon, kamu terlalu sibuk dan cuek sendiri :(". Betapa butanya hatiku, betapa dinginnya diriku hingga tak bisa merasakannya. Oh tuhan, mengapa begini.
"Maafin aku ya, nanti aku sapa kamu setiap hari :)". Aku mulai tersenyum, aku merasa ada seseorang yang merindukanku, betapa bahagianya hati ini.
"Bener ya :D. Maaf jika kamu tersinggung".

Inilah percakapan yang menjadi kami semakin dekat, saling merindukan meski tak pernah tertuliskan, hanya emosi dan sedikit perasaan yang bisa menyadarinya. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya jika aku akan merasakan hal ini.

[bersambung]

Draft - Part 4 [sahabat]

Sahabat, merekalah yang ada dibalik semua ini. Aku tak akan pernah bisa bangkit sendiri tanpa mereka, mereka bagaikan nyawa kedua, mereka adalah aspirin ketika aku terpuruk sakit, mereka tak bisa diungkapkan dengan kata kata. Mereka yang membantuku untuk menyembuhkan luka hatiku.

Berbagai cara mereka lakukan tanpa kuminta, dua sahabat terbaikku memberikan petuah dari dua arah, melalui IM — Instant Messenger — dan twitter. Dan sahabatku yang lain menyemangati via twitter, kadang mengirim SMS. Aku tak sendiri disini, aku tak berdiri sendiri, masih ada yang peduli, masih ada yang menyayangiku dengan cara mereka.

Sahabatku, teman perjuanganku waktu sekolah, dialah orang yang selalu memberikan petuah sampai sekarang, dengan gayanya yang seperti psikolog, selalu bilang 'ini adalah serangan psikologi' ketika ku berkeluh kesah tentang kisah ini, dari sini aku yakin dia telah minum kopi dari abu buku 'Personality Plus' yang selalu ia banggakan. Tapi aku tetap menyukai gayanya ketika memberikan pengarahan, selalu memaksa otakku untuk ikut memikirkan maksud dari kalimatnya hingga aku bisa mengerti apa yang dia  maksud.

Ada yang unik, ada yang membuatku merasa berarti, dia mengingatkan kembali akan apa yang telah kukatakan padanya saat dia terpuruk dan aku berusaha untuk menguatkannya, membuatnya bangkit kembali. Sekarang aku malu padanya, sekarang dia yang menyemangatiku, dia yang memberikan kekuatan akan harapan, seperti dulu yang kulakukan padanya. Tak tanggung, dia mengeluarkan semua kalimat-kalimat yang pernah kuberikan padanya. Aku terharu akan dirinya, dia mengaku hapal semua kalimat yang pernah kuberikan, aku menangis gembira, hidupku masih berarti bagi orang lain.

Dan mereka, mereka berbagi pengalaman dengan kisah mereka yang tak jauh beda denganku. Bahkan aku seolah menjadi peran dari kisah mereka dibuatnya. Tak ada yang lebih menyedihkan dan menyakitkan jika kita mengambil hikmah dari setiap cobaan.

Dari sini aku sadar, tukang cukur tak pernah bisa mencukur rambutnya sendiri kecuali dia tukang cukur gila yang ingin melukai kepalanya, atau sekedar merusak gaya rambutnya. Meskipun aku dulu bisa membantu memulihkan luka orang lain, tetapi aku membutuhkan orang lain pula untuk membantu memulihkan lukaku. Mutualis.

Draft - Part 3

Agustus, banyak orang berbicara tentang cinta pada bulan ini. Entah ada badai apa sehingga yang kulihat hanyalah tulisan-tulisan patah hati, jatuh cinta, berbunga-bunga atau hancur berantakan. Lalu kenapa aku harus memikirkan hal itu? Karena semua bagai mengejekku, mengolok-olok, seolah mereka tahu apa yang kurasakan saat ini. Aku membicarakan patah hati, mereka pun begitu. Mungkinkah diantara kita memang senasib? Konyol.

Saat ini aku mencoba bangkit kembali dari keterpurukan, setelah apa yang kurasakan kemarin. Rasa sakit hati, perasaan yang hancur, dan pikiran yang tak menentu semua telah menerpaku secara bersamaan. Bagian dari cinta, itu yang mereka katakan.

Sekarang hatiku telah mati, hatiku telah buta, buta karenamu. Hatiku mati dan buta sehingga ku tak bisa membencimu, tak bisa melupakan kenangan bersamamu. Bukankah dulu aku pernah bilang 'walaupun amnesia, tapi kenangan akan selalu ada' karena kenangan bukan untuk dilupakan, tapi untuk menjadi jalan cerita kehidupan, kita bisa membukanya kembali untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Aku tak akan pernah membencimu, seperti janjiku dulu padamu.

Butuh sedetik untuk melihat seseorang.
Butuh semenit untuk memperhatikan seseorang.
Butuh sejam untuk mengenal seseorang.
Butuh sehari untuk mengagumi seseorang.
Butuh seminggu untuk lebih dekat dengan seseorang.
Butuh sebulan untuk bisa mencintai seseorang.
Tapi . . .
Butuh seumur hidup untuk melupakan seseorang.

Kau pernah memintaku untuk mengikhlaskanmu, aku ikhlas, aku ikhlas melepasmu seperti aku ikhlas menyayangimu. Biarkanlah aku menanggung sakit ini, aku rela jika ini yang terbaik untukmu, mungkin juga bisa jadi yang terbaik untuk kita.

Draft - Part 2 [Kicau Burung di Pagi Hari]

Pagi yang biasa, tak ada yang special di pagi hari ini, selain kulihat Paman menikmati roti dan kopinya di depan Televisi 14", dan Bang Ali — teman kerja, asal medan —. Kerinduan akan rumah semakin menjadi jadi sejak saat itu, aku butuh teman disini, tak sekedar Paman atau Bang Ali saja. Seperti pagi sebelumnya, mereka selalu bercanda, kadang menertawakan dirinya sendiri, bahkan akupun selalu ditertawakan mereka.

Kutinggalkan mereka yang sedang asyik ngobrol, kupandang Netbook — Noteboook kecil, berukuran 10" — di ruang tengah yang tak aku matikan semalam. Entah mengapa aku merindukan dunia itu, dunia yang tak nyata, dunia yang terasa lebih luas dari dunia yang kupijak ini.

Kuawali pagi ini dengan browsing, berkelana di dunia yang mereka sebut dunia maya, namun bagiku ini dunia nyata, karena pelaku dunia ini juga nyata, hanya saja kecerdasan buatan yang menjalankannya. Sejenak aku jenuh, aku tak tahu harus mencari apa lagi, aku tak tahu cara mengusir sepi ini. Facebook, sudah terasa membosankan, aku jenuh disana, yang kulihat hanya status tak penting yang semakin membuatku terpuruk.

-----

Aku butuh teman, sekedar untuk mengusir kejenuhan, menemani kesendirian, sementara untuk berteman disini sangatlah sulit. Tempatku tinggal mungkin bisa dikatakan sebagai tempat yang pemudanya jarang berinteraksi, jarang ngumpul dan ngobrol sore, mereka lebih senang kebut-kebutan dengan Kawasaki Ninja bising mereka, atau Suzuki Satria F150 dengan knalpot yang membuat telinga pecah.

-----

Teman dunia maya sangatlah banyak, ya kalau dilihat dari angka, tapi tak pernah ada yang berinteraksi dengan baik, mereka hanya membicarakan kepentingan mereka sendiri, egois, seperti tak berniat berteman. Sejenak aku mengingat akan account twitter yang telah lama tak terjamah. Entah ada badai apa yang membuatku ingin membukanya, padahal aku sendiri kebingungan dengan Social Networking satu ini. Seperti biasanya, sepi, tak ada teman aktif disana, hanya ucapan selamat pagi dariku yang aku kirim tadi.

Masih merasa sendiri, masih merasa kesepian, dan akhirnya salam itu dibalas oleh seseorang. Aku terpana, kuangkat kacamata -¼, ternyata dia, teman lamaku, teman seperjuangan 3 tahun di SMK,  teman sebangku, teman berbagi, teman yang menyimpan banyak rahasia yang aku miliki, bahkan bisa dibilang sebagian besar rahasia hidupku dia mengetahuinya. Konyol. Telah lama aku merindukannya, sahabat sekolah, lelaki yang tinggi badannya lebih pendek dariku, berkulit sedikit hitam.

-----

Aku merindukanmu sobat, Hari Raya Idul Fitri yang lalu hanya sedikit obat melepas kerinduan kepada sahabat, kini kita jauh, hanya bantuan kecerdasan manusia yang kita sebut teknologi yang bisa membantu kita melepas kerinduan, kepenatan dalam kepala. Aku merindukan canda tawa kita, mengingat kekonyolanmu menendang mangkuk mie ayam sehingga tumpah sebagian. Semua telah berlalu kawan.

-----

"Online twitter lo? tumben, katanya kau tak mengerti menggunakan twitter.". Jawaban salam pagi yang tak pantas, tapi aku memakluminya.
"Bosan aku, jenuh dengan si putih biru itu. Apa kabarnya disana?".
"Baik baik saja, bagaimana denganmu anak rantau?". Sungguh pertanyaan yang menyinggung perasaan, bagiku disebut anak rantau adalah anak yang terpaksa merantau karena kekurangan biaya, dan memang benar, aku kekurangan biaya untuk melanjutkan kuliah, sehingga aku memutuskan bekerja jauh menyebrang Selat Sunda dari rumahku.

Aku meninggalkan obrolan kecil ini karena perut semakin berontak, sampai pukul 10 pagi perutku masih belum terisi. Inilah hidup merantau, tak ada lagi senyuman ibu yang kurindukan sedang menyiapkan sarapan di dapur. Ibu, maafkan aku harus meninggalkanmu disana, aku memang kecewa waktu itu, mimpiku seakan hancur ketika aku merasa tak bisa melanjutkan sekolahku lebih tinggi.

----

Aku tak bisa kuliah, karena kakakku juga belum menyelesaikan kuliahnya, sementara Bapak, setahun lagi pensiun, aku semakin terpuruk saja, 'kuliah' hanya kata itu yang terngiang dikepalaku. Aku membenci nasibku sendiri, merasa tak diperhatikan, tapi bagaimanapun juga aku harus tetap tau diri, mengerti keadaan keluarga, hingga akhirnya Bibiku yang ada di Jambi menghubungiku menawari pekerjaan, dan tanpa pikir panjang aku menerimanya. Kerja, bukan impian awalku, namun tak apalah jika mencukupi bekerja satu tahun untuk melanjutkan aku kuliah.

----

[bersambung]

Draft - Part 1

"Selamat Pagi :)" SMS ini membangunkanku, namun aku tak bersemangat untuk membuka mata, tak ada hasrat untuk melangkah dari tempatku tidur. Bukan karena sakit demam yang kurasakan, namun karena merasa ada energi yang hilang, energi yang bisa membuatku bangkit dan tersenyum di pagi hari. Kulempar benda kotak berwarna hitam itu, bagai membagikan sebuah kartu dalam permainan poker.

Inilah hari pertamaku, hari pertama memulai kehidupan yang baru. Masih terasa tepian tempat tidurku basah, bukan karena air liur, keringat, atau air yang minum yang tumpah, tapi semalam aku telah menangis sampai shubuh. Tak terbayang semua ini akan terjadi, ketika dulu energi itu masih kurasakan walau tak berwujud. Dulu, ucapan selamat pagi begitu berarti bagiku, memberiku semangat baru untuk memulai hari, tapi kini berasa kelu di hati.

Kutatap angka-angka itu, 'Sudah pukul 9' sementara aku masih tetap seperti ini, tak bergairah walau untuk menyentuhkan kaki ke lantai. Kupandangi lagi Hand Phone yang telah menemaniku selama ini, kubuka semua pesan yang belum kuhapus, kubaca setiap kata meski aku tahu itu akan membuatku semakin terpuruk. Tanpa sadar jemariku menari, menjawab semua pesan yang ada, meski aku tau semua pesan itu telah terjawab, tapi aku tetap ingin menjawab.

Aku belum menjawab salam itu, salam yang penuh kehangatan namun tak bisa kurasakan kehangatan itu. Mungkin hatiku telah mati, atau mungkin karena tidak percaya akan terjadi seperti ini.

'Selamat Pagi juga :)' ya hanya ini yang kutulis demi menjawab salam itu. Kaku, dingin, bahkan tak bermakna sebagai salam.

----

Sebenarnya aku harus masuk kerja, namun fisik — karena tekanan batin lebih tepatnya — tak kuat bahkan hanya untuk melangkah. 'Sudahlah, bolos saja' ya, aku tak masuk kantor hari itu, walaupun aku masuk, tak akan ada gunanya, tak ada yang bisa kukerjakan disana, karena sudah lama perusahaan kami tak mendapatkan proyek.

----

'Nada itu' kudengar nada berteriak memecahkan keheningan kamar yang sempit, karena memang terasa menyempit. Lalu kusambar sumber suara itu, ahhh sebuah pesan masuk, apakah aku harus membacanya, atau mengabaikannya. Jujur, aku tak sanggup jika tak ada pesan dari dia, aku tak mau dia tahu bahwa aku terpuruk dalam kesedihan.

"Kamu jangan sedih terus dong". Emosiku terguncang, aku seakan kembali menangis. Oh tuhan, inilah kekuatan yang telah kau berikan, kini menjadi sebuah cobaan.
"Aku tak bisa bohongi diriku sendiri, aku masih menyayangimu, aku tak tau harus apa, semua ini terasa berat". Ya aku tak ingin membohongi perasaanku, aku tak ingin menahan dan menyembunyikan perasaanku.
"Aku tahu ini berat, tapi inilah jalan yang terbaik, aku tak mau terus menyakitimu, aku juga masih menyayangimu". Ahh.. Jika memang benar semua itu, mengapa kau lakukan ini. Terasa tak adil memang, tapi aku harus tetap menerima, bukankah ini juga demi kebahagiaan dia? ah, klise.

Aku terlalu lemah jika berurusan dengan yang satu ini, berurusan dengan perasaan ini, perasaan yang dulu tak pernah kupedulikan, bahkan ketika merasakannya aku selalu memendamnya jauh didalam hati. Ya, cinta.

[bersambung]

kembalikan twitter!

Gak ada habisnya gue bahas tentang twitter, kali ini sesuai judul gw mau ngajak kalian mengembalikan twitter ke kodratnya. Mari kita simak terlebih dahulu, twitter adalah sebuah social microblogging yang tujuan awalnya memang untuk share alias berbagi. — Kalau ada yang belum mengerti konsep microblogging bisa liat tumblr *padahal nggak micro* — Namun twitter sendiri memiliki perbedaan dari konsep microblogging standar, yaitu dengan ditambahkannya fitur social networking dan jumlah karakter 140 per post.
– hey! apa hubungannya dengan judul? – oh iya lupa, sebenernya ini post buat meluapkan emosi gw aja, diantaranya banyaknya RT abuser, spammer, tukang pamer, dan banyak hal hal yang lainnya.

ada beberapa hal yang gw gak suka sama user twitter, diantaranya:
  1. RT abuser
    Sebenernya gak ada fitur RT *awas lo ya, ini bukan Rukun Tetangga* dari twitter, itu cuma keisengan aplikasinya — kaya UberTwitter — aja yang pake sistem RT.
    ngerti gak maksudnya apa? sama gue juga bingung. jadi intinya gini, jika sebuah tweet ditanggapi dengan retweet kaya gitu akan menambah pusing jalan cerita, maksudnya alur percakapan, bacanya aja bikin keriting, baca dari ujung dulu, lalu ke akhir.
    Mungkin awalnya banyak yang salah pemahaman tentang RT ini, banyak beranggapan artinya Reply-To padahal bukan. lalu kenapa bikin gue pusing? simak ini:
    @user1: astaga,kalian knp ? RT @user3: gue juga :( RT @user2: demialoh gue juga RT @user1: eh,gue sakit tau ngeliat lo sama dia
    nah, bagi sebagian orang awam, cara membaca sistem ini sangatlah rumit, bayangkan aja, kita harus membaca dari ujung lalu ke awal. masalah lain muncul ketika jumlah percakapan sudah lebih dari 10, bisa bisa keriting tuh baca alur cerita seperti itu LOL.

    Solusinya mari kembalikan modus percakapan di twitter sesuai kodrat, gunakan fungsi 'reply' untuk membalas tweet. Setiap aplikasi pasti memiliki fungsi ini, karena ini fungsi standar dari twitter. Namun entah mengapa, entah terlalu banyak alasan atau tak mau mencari tahu, kebanyakan malah meninggalkan fitur ini dengan alasan "kita gak bakal tau bales yang mana" come on dude, pihak twitter gak sebodoh itu kali nyediain ini fungsi! lo bisa klik link 'in reply to your_username' di link, atau In-Reply-To buat di aplikasi. dan hasilnya seluruh record percakapan lo sama temen lo tersusun dengan baik, apalagi aplikasi yang lo pake udah dilengkapi fitur tree conversation kaya gini:

    ini gw pake aplikasi gravity for S60 alias nokia yang pake symbian. mereka nge tweet pake sistem reply yang memang diharuskan begitu.
  2. Follow/Unfollow
    Lo follow seseorang, tapi dia gak follow back elo? terus lo nangis ngemis ngemis? hey, ini twitter bung, bukan FB! meski dia gak follow back elo, tetep aja itu mention masuk ke inbox nya dia, dan dia juga bisa baca dan bales apa yang lo tulis dan mention ke dia.
    Atau lo di unfollow sama seseorang? jangan nangis atau marah marah lah, mungkin dia kurang cocok follow elo, karena memang awalnya gak saling kenal kan? Ingat, ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan itu bukan awal dari berakhirnya dunia lo.
    Tenang aja, meski lo di unfollow, bukan berarti lo di block sama dia, dan lo masih bisa komunikasi sama dia, mungkin itu kebijakannya buat lo. oh iya, yang mau tau siapa yang unfollow bisa pake layanan dari twunfollow.com
  3. HashTag
    Siapa yang tak mengenal hashtag? wah pasti dia newbie banget. Pasti udah pada tau apa itu hashtag, tapi udah tau belum fungsinya buat apa?
    Fungsi Hashtag itu sendiri adalah sebagai tweet grouping atau community tweet untuk memudahkan pencarian tweet, misal hashtag #twitter berisi tweet yang mengandung keyword atau kata twitter.
    Nah sekarang ngaku siapa yang suka pake hashtag untuk menuliskan emosi? memang sih tak salah, bisa saja emosi yang kita tuliskan dicari orang. apa dengan hashtag yang panjang akan dicari orang? misal hashtag #sumpahgaringbanget akan dicari orang? entahlah.
  4. MyLoc
    Maaf ya, ini bukan ngelarang lo beli BB atau pake UT, tapi usahakan fitur MyLoc nya matiin aja, karena akan mengganggu pemandangan, mengganggu estetika timeline follower ente juga, dan akhirnya lo di unfollow dan lo nangis kejer guling guling di tanah. Lah kenapa ganggu? yang jelas seseorang gak selalu perlu tau keberadaan lo, kalo lo emang pengen eksis dimana lo tiap detiknya, mending coba foursquare.
  5. TwitLonger
    Back to annoyed thing, twitlonger..!!!! ya ini memang merepotkan sekali, kalau memang mau curhat panjang lebar di twitter, mendingan lo pake blog aja, terus lo post deh link nya ke twitter. Atau lo males copas link? pake aja layanan twitterfeed, disana lo bisa menikmati fitur autopost to twitter tiap lo post item baru di blog. Curhat panjang lebar dengan 140 char emang cukup?

Yep, itu baru beberapa point yang sangat mengganggu di twitter. Jadi jangan marah jika seseorang menegur lo karena point point diatas – gue juga bete sama orang orang kaya gitu –

Kesimpulannya mari kita kembalikan twitter sesuai fungsi, dan gunakanlah fitur twitter dengan wajar.

TALK LESS, TWEET MORE

ulang tahun yang aneh

Hari ini gw ulang tahun lho ;) – lah bukannya bulan depan? – iya lah, sekarang gw ultah yang ke 18 tahun 11 bulan, ngerti kan maksudnya? yup, gw udah gak sabar nunggu bulan Agustus nih. Hmmm ulang tahun sekarang lumayan  meriah LOL, semuanya pada menggila, termasuk pacar sendiri.

Hari ini gue diperlakukan aneh, SMS dari dia bisa membuat gw ketawa terbahak bahak, mengernyitkan dahi, sampai tersenyum lepas seperti pasien RSJ keluar kamar LOL. Eh kok sekarang SMS nya malah bikin gue khawatir sih, ada apa dengan dia, ada apa dengan keluarganya? mudah mudahan gak ada apa apa deh.

Ternyata sekarang hari sial juga ya, VGA gw si HD 4350 mendadak error setelah maen game SNIPER *f-u-c-k* dah. Kejadian berawal pas gw maen baru setengah jalan, eh mendadak monitor ngeluarin tanda NO SIGNAL *doh*. yaudah lah besok bawa lagi ke penjualnya, siapa tau diganti, baru seminggu beli udah KO.

- Post Blog yang sangat Random -_-a
 
© 2009 Sendy Aditya Suryana | Powered by Blogger | Grey Alpha built on the Blogger Template Framework | Design: Sendy Aditya